Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit dan tindakan apapun menjadi kerdil.
Namun bila anda memandang diri anda besar, dunia akan terlihat luas,anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.
Tindakan adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pikiran anda tentang anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indahdan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.
Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri kita sendiri. Melampaui diatas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan dunia pun akan menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi dibalik penilaian-penilaian kita.
Rabu, 30 Juli 2014
Tindakan kita sebatas kita memandang dunia
Sabtu, 26 Juli 2014
Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit
Pepatah ini sederhana saja, "sedikit demi sedikit lama-lam menjadi bukit". Kita biasa memaknainya bahwa bila kita mengumpulkan uang sesen demi sesej pada saatnya kita akan mendapatkan sepundi. Namun sesungguhnya pepatah ini tak sekedar berbicara tentang hidup hemat atau ketekunan menabung.
Pepatah ini menyiratkan tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekantung keping uang, yaitu: bila kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita,maka kita akan dapati kebesaran dalam jiwa kita.
Bagaimanakah tindakan-tindakan kecil itu mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya? Yaitu, bila disertai dengan secercah kasih sayang di dalamnya. Ucapan terimakasih,sesungging senyum, sapaan ramah, atau pelukan sahabat adalah tindakan yang mungkin sepele saja. Namun dalam liputan kasih sayang,ia jauh lebih tinggi daripada bukit tabungan anda.